Blogger Cursor by Tutorial Blogspot

Welcome to my Blog

Rabu, 23 Oktober 2013

BI: Dampak Kenaikan BBM Subsidi Sudah Hilang

 Bank Indonesia (BI) memperkirakan dampak putaran kedua dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni lalu kini sudah hilang. Hal ini terlihat dari normalnya laju inflasi pada Agustus-September lalu.
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengungkapkan, terjadi deflasi sebesar 0,35% pada September lalu, sehingga inflasi tahunan dari Januari-September 2013 mencapai 7,75% (year to date/ytd).

"Tekanan inflasi sudah ke pola normal dan kami perkirakan tiga bulan terakhir ini inflasi akan terus menurun dan bisa mencapai target di kisaran 9%-9,8%. Jadi bisa dikatakan dampak kenaikan BBM subsidi atau second round effect-nya sudah hilang," ujar dia saat ditemui di Seminar Outlook 2014 di Hotel Le Meridien, Kamis (24/10/2013).

Lebih jauh dia menilai, faktor ekonomi global yang semakin menantang pada tahun ini berpengaruh terhadap perdagangan dan pasar keuangan Indonesia. Faktor utama tersebut, antara lain, pertama, ekonomi global belum cukup kuat bagi pertumbuhan ekonomi negara berkembang, seperti China dan India.

Sementara ekonomi Eropa, Agus menambahkan, telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan meskipun melambat. Hasilnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dipangkas menjadi 2,9% di tahun ini dari sebelumnya pada 2012 sebesar 3,2%. Harga komoditas juga masih merosot dari 18% di tahun lalu menjadi 8,2% pada 2013.

"Kedua, tantangan peningkatan inflasi akibat kenaikan harga pangan. Ini tidak dapat dihindari dan akhirnya mengganggu kesinambungan fiskal, termasuk defisit transaksi berjalan yang sudah berlangsung selama 8 kuartal akibat tekanan kinerja perdagangan dan ekspor," ujar Agus.

Dengan faktor-faktor tersebut, Agus mengaku, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5,5%-5,9% atau turun dari tahun lalu yang menembus 6,2%. Ini disebabkan karena perlambatan konsumsi dan investasi non bangunan.

"Tapi BI dan pemerintah tidak akan tinggal diam dengan melakukan bauran kebijakan yang lebih berkesinambungan dan stabilisasi sistem keuangan, seperti belum lama ini menaikkan BI rate, memperkuat makro prudensial, stabilisasi kurs rupiah dan memperbaiki komunikasi," tutur dia.

Selasa, 22 Oktober 2013

Ramalan BI Soal Nasib Perbankan di Tahun Depan

Bank Indonesia (BI) meramalkan pertumbuhan ekonomi di tahun depan akan membaik meski terjadi perubahan landscape ekonomi dunia. Pemulihan ekonomi global bakal ditopang dari pertumbuhan kinerja sektor keuangan, termasuk perbankan.
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, perubahan landscape ekonomi yang justru akan memperkuat negara-negara maju menjadi tantangan perekonomian nasional pada 2014.

"Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan baik, tapi landscape ekonomi bergeser. Negara maju semakin kuat, tapi kita harus bisa meninggalkan stimulus ketika ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan," ujarnya di Jakarta, Kamis (24/10/2013).

BI memproyeksikan ekonomi Indonesia akan bertumbuh pada kisaran 5,8%-6,2% pada tahun depan. Patokan tersebut akan ditopang dari kinerja ekspor karena perbaikan ekonomi.

"Permintaan domestik meningkat karena daya beli dan pendapatan masyarakat naik. Juga dibarengi dengan penurunan inflasi serta kontribusi dari penyelenggaraan pemilu 2014, serta harga pangan terkendali," tuturnya.

Untuk tahun ini, BI mengarahkan perbankan untuk menyesuaikan laju pertumbuhan kredit dari 23% Year on Year (yoy) menjadi 20%. Anjuran ini dianggap rasional dengan kebutuhan riil sektor ekonomi tertentu dan ketahanan permodalan di Indonesia.

"Tapi kami tetap membuka kesempatan untuk bank lain supaya tumbuh secara alami sebesar 20%. Namun tetap harus memperhatikan tingginya nilai impor supaya bisa mengurangi defisit transaksi berjalan," ujarnya.

BI yakin kondisi perbankan Indonesia di tahun depan masih dalam keadaan sehat meskipun harus mewaspadai potensi penyesuaian tingkat suku bunga BI (BI Rate).

Diproyeksi, pertumbuhan kredit perbankan di 2014 akan bergerak di kisaran 19,1%-20,4% dengan posisi non performing loan (NPL) sekitar 2,3%-2,6% sebagai dampak dari kondisi makro dan kenaikan suku bunga. Sementara Dana pihak ketiga (DPL) akan berada di rentang 14,8%-15,8% dan risiko kredit 2,3%.

Agus juga mengungkapkan, pihaknya saat ini memberlakukan aturan mengenai larangan menjual rumah kedua secara inden kecuali rumah pertama. Tujuannya untuk mencegah terjadinya gelembung harga properti dan memberikan kesempatan kepada masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengajukan Kredit Perumahan Rakyat (KPR).

"Harga rumah yang melambung tinggi akibat peningkatan demand residensial yang lebih besar dari kenyataan, misalnya debitur membeli lebih dari satu properti. Industri perbankan perlu hati-hati karena berpengaruh terhadap biaya properti," tambahnya. 

Senin, 21 Oktober 2013

BI : Inflasi Oktober Bakal Mencapai 0,06%

Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus memantau perkembangan ekonomi Indonesia, termasuk pengendalian inflasi. Bank sentral di tanah air ini ini memperkirakan laju inflasi pada Oktober 2013 bakal mencapai sekitar 0,06% atau di bawah rata-rata inflasi 2007 yang menembus 0,26%"Perkiraan kami untuk inflasi Oktober ini sekitar 0,06%, lebih rendah dari rata-rata inflasi sejak 2007 hingga saat ini yang mencapai 0,26%," ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (25/10/2013).

BI memperkirakan inflasi secara tahunan, tetap bergerak dalam kisaran target BI sebesar 9%-9,8%. Jika realisasi inflasi 0,06% di bulan kesepuluh ini tercapai, inflasi tahunan akan menyentuh di bawah 8,4%.

Meski begitu, Perry menambahkan, BI perlu memantau situasi perkembangan ekonomi makro ke depan sesuai dengan arahan yang diinginkan. "Inflasi, defisit transaksi berjalan, kurs dolar AS mengalami penurunan. Sedangkan pasar keuangan mulai stabil walaupun konsekuensinya adalah menyusutkan pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

BI juga memperkirakan takkan lagi menaikkan tingkat suku bunga acuan bila melihat kondisi perekonomian yang menemui titik terang. Bank sentral justru akan fokus pada pendalaman pasar keuangan guna mengantisipasi keluar masuknya dana asing. "Semakin banyak kami mengeluarkan produk di pasar uang, memberikan instrumen lindung nilai, sehingga perlu koordinasi antar masing-masing bank, " paparnya

Setiap bulan, lanjut dia, BI memastikan akan terus melakukan penyesuaian. Namun hal itu tak lantas membuat bank sentral yakin bisa menjamin proyeksi ekonomi di 2014.

"Apakah Anda bisa jamin kalau Maret tahun depan ternyata ada tappering off atau terjadi shutdown? We never knows. Harapannya tidak akan terjadi yang memburuk di global sehingga tidak mengganggu ekonomi Indonesia," pungkas Perry.